Peran Guru Dalam Mengembangkan Bakat Siswa - Dalam kenyataannya, seseorang sering menghadapi kendala
dalam mengembangkan kreatifitasnya. Dari beberapa sumber kendala tersebut salah
satu diantaranya adalah sekolah dan guru. Tanpa disadari oleh guru atau
sekolah, sering kita temui beberapa tindakan guru yang bermaksud untuk
mengembangkan kreatifitas, namun tindakan yang dilakukan justru membunuh
kreatifitas itu sendiri.
Contohnya, guru lebih menekankan pada hasil belajar berupa hasil yang harus akurat ketimbang proses yang mengembangkan kreatifitas, tidak menanggapi umpan balik dari siswa tentang proses kegiatan belajar mengajar atau guru senantiasa mengawasi dan khawatir dengan tindakan siswa di kelas. Beberapa contoh lain dari hambatan pengembangan kreatifitas di sekolah adalah guru sering memberikan instruksi yang terlalu detail tentangp apa yang harus dilakukan oleh siswa sehingga siswa tidak mampu berkreasi secara bebas.
Contohnya, guru lebih menekankan pada hasil belajar berupa hasil yang harus akurat ketimbang proses yang mengembangkan kreatifitas, tidak menanggapi umpan balik dari siswa tentang proses kegiatan belajar mengajar atau guru senantiasa mengawasi dan khawatir dengan tindakan siswa di kelas. Beberapa contoh lain dari hambatan pengembangan kreatifitas di sekolah adalah guru sering memberikan instruksi yang terlalu detail tentangp apa yang harus dilakukan oleh siswa sehingga siswa tidak mampu berkreasi secara bebas.
1. Pygmalion Effect
Ketika guru masuk ke dalam kelas,
sebenarnya guru telah membawa sebuah sikap yang ditentukan oleh harapan guru
tersebut kepada siswanya. Bila guru akan masuk ke dalam kelas yang sebagian
besar muridnya memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi, maka guru cenderung
bersemangat dan memiliki harapan yang tinggi pula terhadap anak-anaknya.
Sementara itu ketika seorang guru akan masuk ke dalam kelas yang mayoritas siswanya terdiri atas
siswa yang memiliki kecerdasan rata-rata maka guru pun akan cenderung memiliki
harapan yang rendah. Sikap dan harapan ini akan berdampak pada “semangat” dan
sikap guru dalam mengajar siswanya.
Didalam istilah masa kini Pygmalion effect, yaitu bahwa tanpa disadari seseorang berperilaku sebagaimana ia percaya orang lain mengharapkan ia berperilaku. Jika siswa menyadari atau tidak, gurunya memberikan harapan yang tinggi kepada mereka, maka mereka akan melakukannya sesuai dengan harapan guru tersebut. Dan bila siswa menyadari atau tidak bahwa gurunya tidak mempercayai mereka bisa berbuat yang terbaik, maka mereka akan cenderung bertindak sesuai dengan harapan gurunya. Oleh karena itu, ketika guru akan masuk ke dalam kelas, maka setiap guru harus berada pada titik 0, yaitu suatu keadaan batin dan sikap netral memandang siswanya untuk kemudian sadar memberikan sikap dan perlakuan yang sama kepada siswanya. Hal ini akan mengurangi dominasi prasangka dan perasaan ketika akan memulai mengajar. Misalnya, karena masuk ke dalam kelas yang siswanya didominasi oleh siswa cerdas maka guru tersebut memberikan bentuk soal latihan atau test yang lebih menantang sementara karena masuk kelas yang siswanya memiliki kecerdasan rata-rata maka guru memberikan soal atau latihan yang tidak menantang.
Pygmalion effect juga sering disebut self fulfilling prophesy, yaitu bahwa tanpa disadari orang akan berperilaku sebagaimana mereka percaya orang lain mengharapkan mereka berperilaku (Chaplin, 1976). Jadi pada prinsipnya, prestasi dan kreatifitas siswa akan sangat dipengaruhi juga oleh sikap dan perlakukan guru terhadap mereka.
Didalam istilah masa kini Pygmalion effect, yaitu bahwa tanpa disadari seseorang berperilaku sebagaimana ia percaya orang lain mengharapkan ia berperilaku. Jika siswa menyadari atau tidak, gurunya memberikan harapan yang tinggi kepada mereka, maka mereka akan melakukannya sesuai dengan harapan guru tersebut. Dan bila siswa menyadari atau tidak bahwa gurunya tidak mempercayai mereka bisa berbuat yang terbaik, maka mereka akan cenderung bertindak sesuai dengan harapan gurunya. Oleh karena itu, ketika guru akan masuk ke dalam kelas, maka setiap guru harus berada pada titik 0, yaitu suatu keadaan batin dan sikap netral memandang siswanya untuk kemudian sadar memberikan sikap dan perlakuan yang sama kepada siswanya. Hal ini akan mengurangi dominasi prasangka dan perasaan ketika akan memulai mengajar. Misalnya, karena masuk ke dalam kelas yang siswanya didominasi oleh siswa cerdas maka guru tersebut memberikan bentuk soal latihan atau test yang lebih menantang sementara karena masuk kelas yang siswanya memiliki kecerdasan rata-rata maka guru memberikan soal atau latihan yang tidak menantang.
Pygmalion effect juga sering disebut self fulfilling prophesy, yaitu bahwa tanpa disadari orang akan berperilaku sebagaimana mereka percaya orang lain mengharapkan mereka berperilaku (Chaplin, 1976). Jadi pada prinsipnya, prestasi dan kreatifitas siswa akan sangat dipengaruhi juga oleh sikap dan perlakukan guru terhadap mereka.
2. Metode Hafalan
Sampai saat ini, proses kegiatan
belajar mengajar di sekolah lebih menekankan pada hasil ketimbang proses. Hal
ini tentunya bukan hanya masalah guru namun juga sistem pendidikan Indonesia
secara umum yang memang menekankan hasil berupa angka ketimbang pemahaman dan
kemampuan siswa dalam memaknai ilmu dan informasi yang diperolehnya. Metode
seperti ini, dalam metode pendidikan disebut sebagai “metode menghapal
mekanis”. Metode ini termasuk metode yang sering dipakai dalam sistem
pendidikan tradisional yang mengharapkan supaya pendidikan “back to basic”
untuk memberikan ilmu dasar sebagai landasan kuat bagi siswa untuk masuk
kedalam masyarakat. Pandangan ini bisa menjadi benar ketika kita berpikir bahwa
pendidikan tidak ada gunanya jika tidak berdasarkan pembelajaran bahan
pengetahuan dasar. Namun kelemahan dari metode ini adalah bahwa menumpuknya
ilmu dalam benak siswa belum tentu akan mampu dieksplor atau dimanfaatkan oleh
siswa ketika mereka berhadapan dengan masalah sebenarnya dalam hidup, bahkan
bisa jadi masalah dari proses penumpukan ilmu itu pun dilakukan hanya
sebatas ingatan semata. Kreatifitas tidak akan muncul melalui pengumpulan ilmu
dan teori namun harus dilatih melalui sebuah proses panjang sampai siswa bisa
merasakan sendiri dari manfaat ilmu yang dipelajarinya.
Namun dalam kenyataanya, ditengah-tengah masyarakat sering muncul tuntutan untuk merubah metode tersebut dari metode menghapal kebentuk metode variatif dimana siswa diberikan kebebasan untuk memahami ilmunya dengan metode “democratic teaching”. Metode democratic teaching lebih menekankan pada proses diskusi dimana siswa diberikan keleluasan waktu untuk mencari pengetahuan secara mandiri dimana guru lebih berperan sebagai fasilitator dan mediator.
Namun dalam kenyataanya, ditengah-tengah masyarakat sering muncul tuntutan untuk merubah metode tersebut dari metode menghapal kebentuk metode variatif dimana siswa diberikan kebebasan untuk memahami ilmunya dengan metode “democratic teaching”. Metode democratic teaching lebih menekankan pada proses diskusi dimana siswa diberikan keleluasan waktu untuk mencari pengetahuan secara mandiri dimana guru lebih berperan sebagai fasilitator dan mediator.
3. Tekanan Teman Sebaya
Dalam hal pertemanan antar siswa, siswa memiliki
masalah yang jauh lebih rumit dari sekedar menghapal sebuah teori atau memahami
sebuah rumus. Hampir tidak ada materi pelajaran di kelas yang bisa membekali
siswa untuk bisa memahami apa yang mereka alami di lingkungannya. Ada berbagai
macam masalah dan juga berbagai macam karakter guru dan teman terpampang
jelas dan menantang di depan wajah mereka.
Tekanan dari teman bisa muncul dari sikap teman yang meremehkan, berharap banyak, penilaian, ancaman atau sekedar teror “mental” berupa ucapan terhadap tingkah siswa kita. Tentu saja tekanan itu sangat berdampak sekali dalam kemampuan siswa untuk mengembangkan potensinya bila tidak berhasil di ”manage” secara bijak. Proses penenggelaman potensi ini berproses dalam jangka waktu tertentu yang berbeda antara satu siswa dengan siswa lainnya. Sehingga sekolah dan guru memiliki waktu untuk membantu mereka mengatasi masalah dalam pertemanan ini. tanpa bantuan guru, siswa bisa tidak fokus dalam menetapkan prioritas masalah yang harus diselesaikan, diabaikan atau sekedar dipikirkan.
Lihat Juga :
Dan juga guru hanya membantu proses dimana siswa diberikan masukan, alasan dan alternatif solusi dan setelah itu biarkan siswa memilih sendiri dengan kesadaran untuk menangung segala konsekuensi yang akan dihadapinya. Proses ini memang sangat diharapkan untuk dapat melatih kemampuan siswa untuk mengatasi segala permasalahannya secara kreatif dan tidak membuat mereka rendah diri untuk sekedar menunjukkan kemampuannya dihadapan teman-temannya. Penyadaran ini memang sedikit membutuhkan kesabaran dari semua pihak, karena dalam masa perkembangan mereka cenderung untuk merasa benar dan telah mampu berdiri sendiri. Jangan datang kepada mereka namun ketika mereka datang, kita harus dalam posisi ada untuk menyambut mereka.
Tekanan dari teman bisa muncul dari sikap teman yang meremehkan, berharap banyak, penilaian, ancaman atau sekedar teror “mental” berupa ucapan terhadap tingkah siswa kita. Tentu saja tekanan itu sangat berdampak sekali dalam kemampuan siswa untuk mengembangkan potensinya bila tidak berhasil di ”manage” secara bijak. Proses penenggelaman potensi ini berproses dalam jangka waktu tertentu yang berbeda antara satu siswa dengan siswa lainnya. Sehingga sekolah dan guru memiliki waktu untuk membantu mereka mengatasi masalah dalam pertemanan ini. tanpa bantuan guru, siswa bisa tidak fokus dalam menetapkan prioritas masalah yang harus diselesaikan, diabaikan atau sekedar dipikirkan.
Lihat Juga :
Dan juga guru hanya membantu proses dimana siswa diberikan masukan, alasan dan alternatif solusi dan setelah itu biarkan siswa memilih sendiri dengan kesadaran untuk menangung segala konsekuensi yang akan dihadapinya. Proses ini memang sangat diharapkan untuk dapat melatih kemampuan siswa untuk mengatasi segala permasalahannya secara kreatif dan tidak membuat mereka rendah diri untuk sekedar menunjukkan kemampuannya dihadapan teman-temannya. Penyadaran ini memang sedikit membutuhkan kesabaran dari semua pihak, karena dalam masa perkembangan mereka cenderung untuk merasa benar dan telah mampu berdiri sendiri. Jangan datang kepada mereka namun ketika mereka datang, kita harus dalam posisi ada untuk menyambut mereka.
4. Menyikapi Kegagalan
Menyikapi Kegagalan adalah sebuah kenyataan
yang sering dialami oleh setiap orang, bahkan seorang Thomas Alva Edison sekalipun mengalaminya. Namun yang
menjadi pembeda dengan kita, Thomas Alfa Edison menganggap bahwa setiap
kegagalannya adalah sebagai sebuah hasil yang tidak sesuai dengan harapan. Bagi
Edison, kegagalan adalah cara dia menemukan sesuatu yang belum benar. Bukan
sebagai akhir dari sebuah proses.
Guru harus mampu menanamkan kesadaran terhadap siswa didiknya bagaimana mengelola sebuah kegagalan sebagai sebuah hikmah atau ilmu yang bermanfaat bagi dirinya ketika menghadapi permasalahan yang sama dimasa mendatang. Untuk memunculkan motivasi kepada anak untuk mampu bangkit dari kegagalan adalah dengan cara membantu siswa untuk memahami sumber atau penyebab utama terjadinya kegagalan tersebut.
Guru harus mampu menggiring bahwa penyebab kegagalan adalah bersumber dari segala sesuatu yang sebenarnya bisa dirubah. Kalau ada seorang anak yang menganggap bahwa kegagalan yang diperolehnya karena ketidak mampuan dirinya untuk mencapai keberhasilan, maka guru harus menggiringnya menjadi sesuatu yang bisa dirubah, misalnya karena kurang perencanaan, salah metode atau sekedar kurang giat usaha. Bila siswa tidak diberikan gambaran tentang hal itu dan berkutat dengan keyakinan dirinya, bahwa kegagalan itu adalah karena dirinya tidak mampu, maka siswa akan tidak termotivasi untuk mencapai sasaran berikutnya.
Guru harus mampu menanamkan kesadaran terhadap siswa didiknya bagaimana mengelola sebuah kegagalan sebagai sebuah hikmah atau ilmu yang bermanfaat bagi dirinya ketika menghadapi permasalahan yang sama dimasa mendatang. Untuk memunculkan motivasi kepada anak untuk mampu bangkit dari kegagalan adalah dengan cara membantu siswa untuk memahami sumber atau penyebab utama terjadinya kegagalan tersebut.
Guru harus mampu menggiring bahwa penyebab kegagalan adalah bersumber dari segala sesuatu yang sebenarnya bisa dirubah. Kalau ada seorang anak yang menganggap bahwa kegagalan yang diperolehnya karena ketidak mampuan dirinya untuk mencapai keberhasilan, maka guru harus menggiringnya menjadi sesuatu yang bisa dirubah, misalnya karena kurang perencanaan, salah metode atau sekedar kurang giat usaha. Bila siswa tidak diberikan gambaran tentang hal itu dan berkutat dengan keyakinan dirinya, bahwa kegagalan itu adalah karena dirinya tidak mampu, maka siswa akan tidak termotivasi untuk mencapai sasaran berikutnya.
5. Rasa Bosan Yang Memuncak
Kita menganal Thomas alfa Edison
yang dikeluarkan dari sekolahnya karena dianggap tidak mampu belajar dengan
baik disekolahnya. Kita mengenal Einstein yang dikatakan malas oleh gurunya dan
dihakimi tidak akan berhasil dalam hidupnya, begitu juga dengan Charles Darwin
yang sering dimarahi gurunya karena lebih senang naik pohon dan mengamati
makhluk disekitarnya dibandingkan duduk manis di kelas mendengarkan guru yang
sedang mengajar. Contoh-contoh didepan merupakan beberapa contoh bagaimana
sekolah kurang mampu mengakomodasi berbagai macam bentuk kecerdasan yang
dimiliki oleh siswanya. Sekolah sering terjebak pada sebuah anggapan bahwa
semua siswa memiliki potensi, bakat , gaya belajar dan tingkat kepandaian yang
sama sehingga pada akhirnya diperlakukan dan dilayani dengan metode yang
seragam. Penyeragaman ini sangat berpotensi untuk membuat anak merasa jenuh dan
terhambat kreatifitasnya.
Dalam beberapa ulasan juga banyak sekali diuraikan bebrapa penyebab kejenuhan siswa terhadap kegiatan belajar, salah satunya adalah metode belajar yang tidak tepat, tidak ada variasi pembelajaran, sarana sekolah yang sangat terbatas atau cara guru yang mengajar dengan cara monoton. Dari sebab-sebab diatas, tentunya yang paling berperan untuk melahirkan kembali hasrat untuk berprestasi dan kreatif adalah kemampuan guru dalam merekayasa proses pembalajaran menjadi lebih bermakna, berwarna dan bergaya.
Dalam beberapa ulasan juga banyak sekali diuraikan bebrapa penyebab kejenuhan siswa terhadap kegiatan belajar, salah satunya adalah metode belajar yang tidak tepat, tidak ada variasi pembelajaran, sarana sekolah yang sangat terbatas atau cara guru yang mengajar dengan cara monoton. Dari sebab-sebab diatas, tentunya yang paling berperan untuk melahirkan kembali hasrat untuk berprestasi dan kreatif adalah kemampuan guru dalam merekayasa proses pembalajaran menjadi lebih bermakna, berwarna dan bergaya.
Terima kasih telah membaca artikel ini, semoga dapat bermanfaat untuk para pembaca blog SMJ-Sharing. Jangan lupa juga berikan Kritik dan saran pada kotak komentar di bawah.



Kritik dan saran para pembaca sangat bermanfaat bagi kami!
Emoticon